Jumat, 09 Desember 2016



Agung Sulistyo Widodo

Agung Sulistyo Widodo atau sering dipanggil Agung lahir di Magelang 12 Mei 1974. Beliau lahir dari keluarga sederhana pasangan Soedarsono dan Sulastari. Beliau merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara dan memiliki 2 kakak perempuan dan 1 adik laki-laki.
            Beliau memulai pendidikannya di SD Negeri Salamkanci 1 lalu lulus pada tahun 1986 dan  melanjutkan di SMP Muhammadiyah 1 Bandonngan dan setelah lulus melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang namun beliau dikeluarkan saat beliau kelas 11 karena berkelahi. Lalu, beliau pindah ke SMA muhammadiyah Borobudur dan lulus pada tahun 1992. Setelah lulus beliau sempat mengganggur selama 2 tahun sampai akhirnya beliau mencoba nasibnya untuk mendaftar di pendidikan kepolisian. Akhirnya, beliau diterima dan resmi menjadi anggota kepolisian pada tahun 1994. Beliau di dinaskan di kota kecil di Jawa Tengah yaiutu Banjarnegara. Pada tahun 1996 beliau berkenalan dengan sosok wanita bernama Nur Kusharyati. Pada tahun 1998 mereka memutuskan untuk menikah.
Pada 10 Agustus 1999 mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Sandy Eka Pradana dan pada 2004 memiliki anak ke 2 yang bernama Febrian Cahya dan pada tahun 2007 lahir anak terakhir yang bernama Fajar Satria Tama. Sandy memulai pendidikannya sama seperti bapaknya di SD Salamkanci 1 dan melanjutkan di SMP Negeri 7 Kota Magelang dan sekarang duduk di kelas 3 SMA Negeri 2 Kota Magelang. Saat Sandy duduk di kelas 3 SMA Agung Sulistiyo Widodo menghembukan nafas terakhirnya tepatnya pada 26 Juli 2016 karena sakit.
Menurut anak-anaknya beliau merupan bapak yang baik dan tegas selalu mengingatkan jika anaknya salah. Beliau sangat baik hati terhadap teman dan keluarganya.

Jumat, 11 November 2016

Tugas Iklan



Ada banyak jenis iklan salah satunya adalah iklan layanan masyarakat yang bersifat mengajak dan menghimbau. Seperti iklan yang saya buat yaitu menghimbau dan mengajak masyarakat untuk membasmi koruptor.
Makna gambar
1.       Tangan yang membawa tikus dan dibuang di tempat sampah memiliki makna, tangan digambarkan aparat hukum yang membawa koruptor yang digambarkan tikus hitam membawa uang banyak yang menjijikan dibuang ke tempat sampah yang menjijikan.
2.       Terdapat tulisan “BUANG KORUPTOR PADA TEMPATNYA” yang memiliki arti mengajak  para masyarakat untuk mempertempatkan koruptor pada tempatnya yang semestinya.
3.       Kata BUANG yang berwarna hitam menggambarkan ketegasan untuk melakukan kegiatan tersebut yaitu membuang.
4.       Kata KORUPTOR yang berwarna kuning merah menggambarkan sifat yang menjijikan layaknya koruptor yang mengambil uang rakyat seenaknya
5.       Kata pada dengan warna hitam dan di tempatkan di kotak kuning layaknya rambu-rambu lalu lintas yang bertujuan memberi tahu bahwa membuang koruptor itu pada tempatnya.
6.       Kata TEMPATNYA berwarna merah yang menyeramkan menggambarkan tempat yang tepat bagi koruptor yaitu ditempat yang menyeramkan.
7.       Lelehan kotoran di bawah kata TEMPATNYA yang menggambarkan tempat yang menjijikan dan seeramlah yang pantas untuk koruptor.

Tugas Biografi



Agung Sulistyo Widodo

Agung Sulistyo Widodo atau sering dipanggil Agung lahir di Magelang 12 Mei 1974. Beliau lahir dari keluarga sederhana pasangan Soedarsono dan Sulastari. Beliau merupakan anak ke 3 dari 4 bersaudara dan memiliki 2 kakak perempuan dan 1 adik laki-laki.
            Beliau memulai pendidikannya di SD Negeri Salamkanci 1 lalu lulus pada tahun 1986 dan  melanjutkan di SMP Muhammadiyah 1 Bandonngan dan setelah lulus melanjutkan ke SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang namun beliau dikeluarkan saat beliau kelas 11 karena berkelahi. Lalu, beliau pindah ke SMA muhammadiyah Borobudur dan lulus pada tahun 1992. Setelah lulus beliau sempat mengganggur selama 2 tahun sampai akhirnya beliau mencoba nasibnya untuk mendaftar di pendidikan kepolisian. Akhirnya, beliau diterima dan resmi menjadi anggota kepolisian pada tahun 1994. Beliau di dinaskan di kota kecil di Jawa Tengah yaiutu Banjarnegara. Pada tahun 1996 beliau berkenalan dengan sosok wanita bernama Nur Kusharyati. Pada tahun 1998 mereka memutuskan untuk menikah.
Pada 10 Agustus 1999 mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Sandy Eka Pradana dan pada 2004 memiliki anak ke 2 yang bernama Febrian Cahya dan pada tahun 2007 lahir anak terakhir yang bernama Fajar Satria Tama. Sandy memulai pendidikannya sama seperti bapaknya di SD Salamkanci 1 dan melanjutkan di SMP Negeri 7 Kota Magelang dan sekarang duduk di kelas 3 SMA Negeri 2 Kota Magelang. Saat Sandy duduk di kelas 3 SMA Agung Sulistiyo Widodo menghembukan nafas terakhirnya tepatnya pada 26 Juli 2016 karena sakit.
Menurut anak-anaknya beliau merupan bapak yang baik dan tegas selalu mengingatkan jika anaknya salah. Beliau sangat baik hati terhadap teman dan keluarganya.

Tugas Berita



Hysteria Smada
Sabtu (29/10/2016) SMA Negeri 2 Kota Magelang merayakan hari jadinya yang ke 37 di gedung A. H. Nasution tepatnya di komplek Akmil Jl Gatot subroto. Acara ini adalah puncak dari perayaan hari jadi SMA Negeri 2 yang ke 37. Sebeumnya SMA 2 juga menyelenggarakan berbagai acara untuk memperingati hari jadinya. Pertama yaitu dengan mengadakan pertandingan futsal  antar SMA sekedu. Lalu, pertandingan voli tingkat SMP, dan salah satu acara besar yaitu festival MAGANZA yang mendatangkan band band terkenal dan melibatkan orang luar. Seluruh acara yang telah terlaksana tak lepas dari kekompakan para pengurus OSIS yang telah mempersiapkan semuanya.
            Sebagai puncak dari sekian acara Hysteria Smada mempertunjukkan bakat-bakat dari anak Smada itu sendiri. Ada banyak sekali pertunjukan yang dibawakan oleh anak-anak Smada, seperti band,tari tradisional,tari modern,standup,dll. Arief Fauzan selaku kepala SMA Negeri 2 Kota Magelang mengaku sangat bangga dengan potensi anak didiknya, beliau berharap agar mereka terus mengembangkan potensi mereka dan dapat terus berkarya untuk bangsa dan negara.
            Acara ini bisa dibilang cukup hebat bahkan kepala Dinas Pendidikan pun ikut menyaksikan jalannya upacara. Para siswa pun terlihat sangat senang dengan rangkaian acara tersebut. Mereka merasa ada yang beda dari perayaan hari jadi  SMA dari taun sebelum-sebelumnya, mereka berharap SMA Negeri 2 kedepannya makin mantap dalam berkarya.